Wednesday, March 3, 2021

Kenangan Persahabatan yang hampir tergerus waktu

 

Meramu Harapan dari Tangan Para Kartini       

            Banyak yang bilang bahwa persahabatan dewasa ini hanyalah bagian dari fantasi masa muda. Namun lain denganku, aku percaya bahwa persahabatan itu ada dan nyata. Pertemuan-pertemuan dari ketiga perempuan dengan berbagai latar belakang, yang layak disebut sebagai rumah dari setiap petualangan. Inilah kisah persahabatan kami, sebuah persahabatan yang tercipta tanpa sengaja. Namun setiap kebersamaan dengan mereka adalah anugerah yang tiada tara.

            Sebut saja aku, Bu Uji, dan Bu Nurul adalah rekan kerja di sebuah madrasah. Pada awalnya, kami adalah rekan kerja seperti yang lainnya, namun lambat laun kami menjadi semakin dekat. Entah karena persamaan cara berpikir, banyaknya waktu dalam berjuang bersama, atau ada hal lainnya yang tentunya melahirkan kekuatan persahabatan kami. Mungkin sebaiknya aku kisahkan tentang persahabatan kami disini satu-satu.

            Aku mengenal Bu Uji saat pertama kali kami bertemu, dia adalah seorang perempuan yang tegas dan rela berjuang. Pernah suatu ketika saat aku menjalani profesiku sebagai seorang operator sekolah, Bu Uji rela menemaniku hingga sore hari. Dia membawakanku gulai daging kambing sebagai pengganjal perut kosong dari rumahnya yang tidak jauh dari madrasah kami.

            Sejak awal aku memang mengenalnya sebagai perempuan yang tegas, rela berkorban, dan pantang menyerah dalam berjuang meningkatkan mutu pendidikan di madrasah kami. Sekalipun kami terpaut usia beberapa tahun, namun kami serasa teman sebaya. Kami menjadi rekan yang cukup terbuka dan dapat diajak bekerja sama. Bersama beliau waktu terasa sangat cepat, kadang kangen dengan tingkah konyolnya dan celetukan penuh canda untuk mengisi waktu luang sambil mengerjakan administrasi sekolah.

Dedikasinya menjadi seorang guru patut diacungi jempol. Dengan ketegasannya, Bu Uji menjadi guru kelas enam yang selalu berhasil mengantarkan putra putri madrasah menyelesaikan jenjang terakhir dengan senyum terkembang penuh kebanggaan dari orang tua murid. Beliau selalu meluangkan waktu memberikan tambahan pelajaran samapi menjelang ashar. Tidak sampai disini, saat malam beliau juga dengan ikhlas menerima murid yang memang masih butuh bimbingan pelajaran di rumahnya.

Pada waktu yang berlainan, kami sebagai rekan kerja yang solid. Ada sekelumit cerita yang tak akan pernah kami lupakan. Masih segar dalam ingatan saat perjuangan menghadapi akreditasi madrasah tahun 2009 lalu. Bukan rahasia lagi untuk saat itu administrasi  guru kami tidak membuat setiap hari. Bahasa kerennya “wayangan” membuat administrasi dengan foto copy dan tembel sana sini. Bisa dibayangkan administasi empat tahun kami kerjakan dalam waktu satu bulan. Untuk menyelesaikannya setiap hari lembur sampai bada shalat Ashar. Walaupun lelah, tak pernah terasa karena suasana persaudaraan di madrasah kami yang seperti keluarga sendiri.

Malam menjelang hari H akreditasi madrasah. Persiapan satu bulan rasanya masih kurang untuk menyiapkan “sesajen” untuk tim assessor. Kami bahu membahu, menyiapkan tempat dan segala macam administrasi sesuai job desk masing-masing. Sampai tengah malam belum juga selesai. Melihatku yang sudah menguap dan duduk terkantuk-kantuk, tanpa diminta, beliau pulang dengan sempoyongan menggotong kasur untuk alas tidur. Melihatnya berdiri menggendong kasur tawa kami meledak, kantuk hilang tak bersisa. Kembali kami selesaikan tugas sampai dini hari. Beliaulah mood booster kami bekerja, sosok Kartini dalam madrasah kami. Sifatnya yang keras kepala berhasil mengimbangiku yang cepat putus semangat, beliaulah yang selalu menasehati, mendukung dan mengulurkan tangan disaat diriku terpuruk.

Takdir yang terjadi pada kami juga hampir sama. Sebagai anak yang selalu serumah dengan orang tua yang semakin sepuh, membuat kami menomorsatukan keluarga. Dan sering lupa untuk memikirkan diri sendiri untuk membangun keluarga. Kami saling terbuka untuk urusan pribadi, saling menguatkan dan menganggap enteng segala beban berat yang tengah kami hadapi. Apalagi saat pelangi kehidupan yang berwarna warni menuntut kami untuk tetap tersenyum di saat hati harus menangis. Harus kuat berdiri tegak walaupun jiwa telah remuk terkoyak-koyak. Prinsip hidup kami sama, apapun yang terjadi masih ada lantai untuk bersujud. Dari beliaulah saya belajar ilmu kehidupan. Belajar untuk memaafkan, berdamai pada keadaan dan ikhlas tanpa beban menjalani hari sesuai takdir yang tertulis di lauhul mahfud.

Persahabatan kami yang sudah lebih dari satu dekade, membuat perubahan besar pada diriku. Seperti pepatah jawa yang mengatakan “cedhak kembang dadi ketularan ambu kembang”. Bu Uji adalah sosok yang haus ilmu pengetahuan. Saat guru madrasah belum banyak yang menempuh Magister, beliau menjadi pionir di daerah kami untuk melanjutkan study. Saat beliau berhasil wisuda S2, perlu diketahui kami satu madrasah masih sampai jenjang D2. Akhirnya dengan suntikan semangat Bu Uji kami berlomba-lomba menyelesaikan skripsi yang terkatung-katung. Akhirnya satu persatu guru di madrasah kami menyelesaikan jenjang sarjana dengan hasil yang cukup memuaskan.  

            Sahabatku yang satunya lagi adalah Bu Nurul. Aku mengenalnya juga sebagai rekan kerja di sekolah. Beliau adalah sosok yang dewasa, tegas dan punya kepercayaan diri yang tinggi.  Aku terpukau dengan suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dan membawakan sholawat.  Bu Nurul orangnya cukup ramah, terbuka dan saling melengkapi diantara kami semuanya.

            Hal yang kemudian menjadikan kami lebih dekat adalah keberadaan orangtua kami yang sama-sama sudah sepuh. Terutama gejala sakit yang diderita bapak kami hampir sama, yakni asam urat.

Dari hal-hal sederhana tentang makanan sampai obat-obatan yang dapat dikonsumsi oleh orangtua kami itulah yang kemudian menjadikan kami jauh lebih dekat lagi. Selain Bu Uji, Bu Nurul juga memiliki orang tua yang mengaji di majlis taklim yang sama. Dari situlah persahabatan kami bertiga menjadi jauh lebih kuat.

            Beberapa tahun yang lalu, Bu Nurul dan aku  mendapatkan kesempatan PLPG bersama. Mulai dari pemberkasan, pontang-panting mengejar deadline. Melewati masa-masa tersulit dalam meramu tugas, kami terus bersama hingga lulus. Masa-masa itu tentunya menjadikan persahabatan kami terjalin lebih kuat lagi.

Ada kisah konyol dari kami berdua saat menjalani PLPG. Saat itu jadwal begitu padat kami dituntut membuat PTK dalam waktu kurang dari 4 jam. Bayangkan dari menemukan ide, merancang ke dalam bentuk tulisan yang biasanya  membutuhkan waktu yang lama harus kami kerjakan secepat mungkin. Karena dengan kebersamaan yang penuh semangat diselingi dengan diskusi walaupun beda ide, namun pada akhirnya kami berhasil melaluinya,. Akhirnya waktu pulang menjadi molor dari biasanya. Kami berhasil keluar dari gedung fakultas Tarbiyah saat adzan Magrib telah terdengar. Dengan sisa tenaga dan wajah yang kusut, kami putuskan untuk sholat terlebih dahulu. Selesai sholat kami mencari ojek becak, namun sudah tidak ada. Sambil menertawakan nasib kami, kami pun berjalan kaki beriringan  menuju asrama yang cukup jauh. Alhamdulillah saat kita merasa begitu lelah, ada bapak tukang becak yang lewat, dan menawarkan  untuk mengantar pulang. Kami sampai asrama bersamaan dengan adzan Isya berkumandang.

Kisah kami tidak hanya sampai di sini. Pada hari berikutnya, saat ujian praktek mengajar diadakan. Saya yang terkenal sebagai dewi tidur, sampai pagi menjelang pun media pembelajaran yang saya buat belum selesai. Sambil naik ojek bentor saya sibuk menggunting ditemani Bu Nurul yang membantu memegang kertas. Saat hampir sampai kampus, tiba-tiba Bu Nurul teringat tidak memakai ID Card peserta. Tanpa pikir panjang Pak Becak kami suruh putar balik. Karena waktu sudah mepet, Pak becak membawa kami dalam laju yang tak biasa, tidak bisa dibayangkan seolah secepat kilat dalam mengemudikannya, demi bolak-balik asrama-kampus dalam waktu yang begitu singkat. Benar-benar terasa spot jantung di pagi hari.

Di sisi lain, saya sangat kagum terhadap beliau. Bu Nurul adalah seorang wonder woman di mata saya. Beliau selain berhasil menjadi pendidik yang berkompeten di madrasah kami, juga seorang ibu yang luar biasa, yang mampu melahirkan putri yang juga luar biasa. Di usianya yang masih belia dengan kesabaran dan keuletan Bu Nurul, putrinya telah berhasil menorehkan puluhan  kejuaraan, baik MTQ, pidato dan tahfidz. Dari beliau saya termotivasi untuk kembali belajar mempelajari tajwid dan makhraj dalam membaca Al Quran.

Sebagai rekan kerja, kami juga sangat dekat dengan keluarga satu sama lain. Begitu dekatnya kami lebih dari saudara. Nyaman untuk saling berkeluh kesah menumpahkan suka duka bersama.

            Namun kini kami harus terpisah oleh perbedaan tempat mengajar. Karena sejak dua tahun yang lalu aku harus berpindah tempat mengajar di sebuah sekolah dasar di perbatasan Purworejo-Wonosobo.

Ada banyak support yang mereka berikan kepadaku, ditengah keputusasaanku. Saat tugas untuk menyelesaikan data sekolah yang serba online. Server hanya bisa dijebol malam hari, saat semua orang istirahat. Mereka menemaniku dari jauh, memantauku lewat whatsaap. Memberikan dukungan agar tak ngantuk, tetap jaga kesehatan dan guyonan segar lainnya. Mungkin hal receh seperti ini tapi dilakukan dengan ketulusan hati sehingga membekas sampai samudra kenangan.

 Saat aku mendaftar di sekolah lain satu kecamatan dengan tempat tinggalku. Mereka terus mensupportku, mengatakan bahwa aku bisa mendapatkannya. Hingga akhirnya benar aku diterima di tempat baru, yang membuatku harus merelakan kebersamaan dalam perjuangan bersama mereka selama 14 tahun di madrasah kami.

Akan tetapi, meskipun kami telah berpisah tempat kerja mereka seringkali silaturahmi ke rumah. Mereka masih mengajakku menikmati akhir pekan bersama, mengajak ziarah ke makam-makam para aulia di kota kami, atau sekedar mampir bercengkrama menceritakan perjuangan kami di tempat masing-masing.

Perbedaan tempat mengajar tidak lantas memutus silaturahmi kami, malah makin kuat. Hanya saja jarak dan waktu yang kemudian lebih senggang, karena sedikitnya pertemuan. Semoga persahabatan kami bukan hanya di dunia ini. Tapi akan saling berpegang erat sampai until jannah.

           

BIODATA PENULIS

Hanik Bariroh yang akrab dipanggil Mbak Hanik adalah seorang guru Sekolah Dasar di daerah pinggiran Kabupaten Purworejo. Hari-harinya disibukkan dengan dunia anak-anak. Dari mengajar bimbel sampai menemani adek-adek balita mengenal huruf hijaiyah. Selain menggajar penulis juga menggeluti bisnis online dari buku Islami dan obat-obatan herbal.

Motto hidup penulis adalah “Ojo rumongso biso tapi biso’o rumangso”

Facebook : Hanik Bariroh

Ig : hanikbariroh

WA : 085640588546