Meramu
Harapan dari Tangan Para Kartini
Banyak
yang bilang bahwa persahabatan dewasa ini hanyalah bagian dari fantasi masa
muda. Namun lain denganku, aku percaya bahwa persahabatan itu ada dan nyata.
Pertemuan-pertemuan dari ketiga perempuan dengan berbagai latar belakang, yang
layak disebut sebagai rumah dari setiap petualangan. Inilah kisah persahabatan
kami, sebuah persahabatan yang tercipta tanpa sengaja. Namun setiap kebersamaan
dengan mereka adalah anugerah yang tiada tara.
Sebut
saja aku, Bu Uji, dan Bu Nurul adalah rekan kerja di sebuah madrasah. Pada
awalnya, kami adalah rekan kerja seperti yang lainnya, namun lambat laun kami
menjadi semakin dekat. Entah karena persamaan cara berpikir, banyaknya waktu
dalam berjuang bersama, atau ada hal lainnya yang tentunya melahirkan kekuatan
persahabatan kami. Mungkin sebaiknya aku kisahkan tentang persahabatan kami
disini satu-satu.
Aku
mengenal Bu Uji saat pertama kali kami bertemu, dia adalah seorang perempuan
yang tegas dan rela berjuang. Pernah suatu ketika saat aku menjalani profesiku
sebagai seorang operator sekolah, Bu Uji rela menemaniku hingga sore hari. Dia
membawakanku gulai daging kambing sebagai pengganjal perut kosong dari rumahnya
yang tidak jauh dari madrasah kami.
Sejak
awal aku memang mengenalnya sebagai perempuan yang tegas, rela berkorban, dan
pantang menyerah dalam berjuang meningkatkan mutu pendidikan di madrasah kami.
Sekalipun kami terpaut usia beberapa tahun, namun kami serasa teman sebaya.
Kami menjadi rekan yang cukup terbuka dan dapat diajak bekerja sama. Bersama
beliau waktu terasa sangat cepat, kadang kangen dengan tingkah konyolnya dan
celetukan penuh canda untuk mengisi waktu luang sambil mengerjakan administrasi
sekolah.
Dedikasinya menjadi
seorang guru patut diacungi jempol. Dengan ketegasannya, Bu Uji menjadi guru
kelas enam yang selalu berhasil mengantarkan putra putri madrasah menyelesaikan
jenjang terakhir dengan senyum terkembang penuh kebanggaan dari orang tua
murid. Beliau selalu meluangkan waktu memberikan tambahan pelajaran samapi
menjelang ashar. Tidak sampai disini, saat malam beliau juga dengan ikhlas
menerima murid yang memang masih butuh bimbingan pelajaran di rumahnya.
Pada waktu yang
berlainan, kami sebagai rekan kerja yang solid. Ada sekelumit cerita yang tak
akan pernah kami lupakan. Masih segar dalam ingatan saat perjuangan menghadapi
akreditasi madrasah tahun 2009 lalu. Bukan rahasia lagi untuk saat itu
administrasi guru kami tidak membuat
setiap hari. Bahasa kerennya “wayangan”
membuat administrasi dengan foto copy dan tembel sana sini. Bisa dibayangkan
administasi empat tahun kami kerjakan dalam waktu satu bulan. Untuk
menyelesaikannya setiap hari lembur sampai bada shalat Ashar. Walaupun lelah,
tak pernah terasa karena suasana persaudaraan di madrasah kami yang seperti
keluarga sendiri.
Malam menjelang hari H
akreditasi madrasah. Persiapan satu bulan rasanya masih kurang untuk menyiapkan
“sesajen” untuk tim assessor. Kami
bahu membahu, menyiapkan tempat dan segala macam administrasi sesuai job desk masing-masing. Sampai tengah
malam belum juga selesai. Melihatku yang sudah menguap dan duduk
terkantuk-kantuk, tanpa diminta, beliau pulang dengan sempoyongan menggotong
kasur untuk alas tidur. Melihatnya berdiri menggendong kasur tawa kami meledak,
kantuk hilang tak bersisa. Kembali kami selesaikan tugas sampai dini hari. Beliaulah
mood booster kami bekerja, sosok
Kartini dalam madrasah kami. Sifatnya yang keras kepala berhasil mengimbangiku
yang cepat putus semangat, beliaulah yang selalu menasehati, mendukung dan
mengulurkan tangan disaat diriku terpuruk.
Takdir yang terjadi pada
kami juga hampir sama. Sebagai anak yang selalu serumah dengan orang tua yang
semakin sepuh, membuat kami menomorsatukan keluarga. Dan sering lupa untuk
memikirkan diri sendiri untuk membangun keluarga. Kami saling terbuka untuk
urusan pribadi, saling menguatkan dan menganggap enteng segala beban berat yang
tengah kami hadapi. Apalagi saat pelangi kehidupan yang berwarna warni menuntut
kami untuk tetap tersenyum di saat hati harus menangis. Harus kuat berdiri
tegak walaupun jiwa telah remuk terkoyak-koyak. Prinsip hidup kami sama, apapun
yang terjadi masih ada lantai untuk bersujud. Dari beliaulah saya belajar ilmu
kehidupan. Belajar untuk memaafkan, berdamai pada keadaan dan ikhlas tanpa
beban menjalani hari sesuai takdir yang tertulis di lauhul mahfud.
Persahabatan kami yang
sudah lebih dari satu dekade, membuat perubahan besar pada diriku. Seperti
pepatah jawa yang mengatakan “cedhak
kembang dadi ketularan ambu kembang”.
Bu Uji adalah sosok yang haus ilmu pengetahuan. Saat guru madrasah belum banyak
yang menempuh Magister, beliau menjadi pionir di daerah kami untuk melanjutkan
study. Saat beliau berhasil wisuda S2, perlu diketahui kami satu madrasah masih
sampai jenjang D2. Akhirnya dengan suntikan semangat Bu Uji kami berlomba-lomba
menyelesaikan skripsi yang terkatung-katung. Akhirnya satu persatu guru di
madrasah kami menyelesaikan jenjang sarjana dengan hasil yang cukup memuaskan.
Sahabatku
yang satunya lagi adalah Bu Nurul. Aku mengenalnya juga sebagai rekan kerja di
sekolah. Beliau adalah sosok yang dewasa, tegas dan punya kepercayaan diri yang
tinggi. Aku terpukau dengan suaranya
yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dan membawakan sholawat. Bu Nurul orangnya cukup ramah, terbuka dan
saling melengkapi diantara kami semuanya.
Hal
yang kemudian menjadikan kami lebih dekat adalah keberadaan orangtua kami yang
sama-sama sudah sepuh. Terutama
gejala sakit yang diderita bapak kami hampir sama, yakni asam urat.
Dari hal-hal sederhana
tentang makanan sampai obat-obatan yang dapat dikonsumsi oleh orangtua kami
itulah yang kemudian menjadikan kami jauh lebih dekat lagi. Selain Bu Uji, Bu
Nurul juga memiliki orang tua yang mengaji di majlis taklim yang sama. Dari
situlah persahabatan kami bertiga menjadi jauh lebih kuat.
Beberapa
tahun yang lalu, Bu Nurul dan aku mendapatkan kesempatan PLPG bersama. Mulai
dari pemberkasan, pontang-panting mengejar deadline. Melewati masa-masa
tersulit dalam meramu tugas, kami terus bersama hingga lulus. Masa-masa itu
tentunya menjadikan persahabatan kami terjalin lebih kuat lagi.
Ada kisah konyol dari kami
berdua saat menjalani PLPG. Saat itu jadwal begitu padat kami dituntut membuat
PTK dalam waktu kurang dari 4 jam. Bayangkan dari menemukan ide, merancang ke
dalam bentuk tulisan yang biasanya
membutuhkan waktu yang lama harus kami kerjakan secepat mungkin. Karena
dengan kebersamaan yang penuh semangat diselingi dengan diskusi walaupun beda
ide, namun pada akhirnya kami berhasil melaluinya,. Akhirnya waktu pulang menjadi
molor dari biasanya. Kami berhasil keluar dari gedung fakultas Tarbiyah saat adzan
Magrib telah terdengar. Dengan sisa tenaga dan wajah yang kusut, kami putuskan
untuk sholat terlebih dahulu. Selesai sholat kami mencari ojek becak, namun sudah
tidak ada. Sambil menertawakan nasib kami, kami pun berjalan kaki beriringan menuju asrama yang cukup jauh. Alhamdulillah saat
kita merasa begitu lelah, ada bapak tukang becak yang lewat, dan menawarkan untuk mengantar pulang. Kami sampai asrama
bersamaan dengan adzan Isya berkumandang.
Kisah kami tidak hanya
sampai di sini. Pada hari berikutnya, saat ujian praktek mengajar diadakan.
Saya yang terkenal sebagai dewi tidur, sampai pagi menjelang pun media
pembelajaran yang saya buat belum selesai. Sambil naik ojek bentor saya sibuk
menggunting ditemani Bu Nurul yang membantu memegang kertas. Saat hampir sampai
kampus, tiba-tiba Bu Nurul teringat tidak memakai ID Card peserta. Tanpa pikir
panjang Pak Becak kami suruh putar balik. Karena waktu sudah mepet, Pak becak
membawa kami dalam laju yang tak biasa, tidak bisa dibayangkan seolah secepat
kilat dalam mengemudikannya, demi bolak-balik asrama-kampus dalam waktu yang
begitu singkat. Benar-benar terasa spot jantung di pagi hari.
Di sisi lain, saya sangat
kagum terhadap beliau. Bu Nurul adalah seorang wonder woman di mata saya. Beliau selain berhasil menjadi pendidik
yang berkompeten di madrasah kami, juga seorang ibu yang luar biasa, yang mampu
melahirkan putri yang juga luar biasa. Di usianya yang masih belia dengan
kesabaran dan keuletan Bu Nurul, putrinya telah berhasil menorehkan
puluhan kejuaraan, baik MTQ, pidato dan
tahfidz. Dari beliau saya termotivasi untuk kembali belajar mempelajari tajwid
dan makhraj dalam membaca Al Quran.
Sebagai rekan kerja, kami
juga sangat dekat dengan keluarga satu sama lain. Begitu dekatnya kami lebih
dari saudara. Nyaman untuk saling berkeluh kesah menumpahkan suka duka bersama.
Namun
kini kami harus terpisah oleh perbedaan tempat mengajar. Karena sejak dua tahun
yang lalu aku harus berpindah tempat mengajar di sebuah sekolah dasar di
perbatasan Purworejo-Wonosobo.
Ada banyak support yang
mereka berikan kepadaku, ditengah keputusasaanku. Saat tugas untuk
menyelesaikan data sekolah yang serba online. Server hanya bisa dijebol malam
hari, saat semua orang istirahat. Mereka menemaniku dari jauh, memantauku lewat
whatsaap. Memberikan dukungan agar tak ngantuk, tetap jaga kesehatan dan
guyonan segar lainnya. Mungkin hal receh seperti ini tapi dilakukan dengan
ketulusan hati sehingga membekas sampai samudra kenangan.
Saat aku mendaftar di sekolah lain satu
kecamatan dengan tempat tinggalku. Mereka terus mensupportku, mengatakan bahwa
aku bisa mendapatkannya. Hingga akhirnya benar aku diterima di tempat baru,
yang membuatku harus merelakan kebersamaan dalam perjuangan bersama mereka
selama 14 tahun di madrasah kami.
Akan tetapi, meskipun
kami telah berpisah tempat kerja mereka seringkali silaturahmi ke rumah. Mereka
masih mengajakku menikmati akhir pekan bersama, mengajak ziarah ke makam-makam
para aulia di kota kami, atau sekedar mampir bercengkrama menceritakan
perjuangan kami di tempat masing-masing.
Perbedaan tempat mengajar
tidak lantas memutus silaturahmi kami, malah makin kuat. Hanya saja jarak dan
waktu yang kemudian lebih senggang, karena sedikitnya pertemuan. Semoga
persahabatan kami bukan hanya di dunia ini. Tapi akan saling berpegang erat
sampai until jannah.
BIODATA PENULIS
Hanik
Bariroh yang akrab dipanggil Mbak Hanik adalah seorang guru Sekolah Dasar di
daerah pinggiran Kabupaten Purworejo. Hari-harinya disibukkan dengan dunia
anak-anak. Dari mengajar bimbel sampai menemani adek-adek balita mengenal huruf
hijaiyah. Selain menggajar penulis juga menggeluti bisnis online dari buku
Islami dan obat-obatan herbal.
Motto
hidup penulis adalah “Ojo rumongso biso
tapi biso’o rumangso”
Facebook
: Hanik Bariroh
Ig
: hanikbariroh
WA
: 085640588546
No comments:
Post a Comment